Cinta
Impian
Di malam yang dingin
Di bawah rindangnya beringin
Di antara lembutnya angin
Dirimu ingin....
Penjual Daging
Kucincang....
Kuiris-iris
tiap bagianmu
Sebagai
kebutuhan hidup kita
Tetapi....
Perjuangan
Bakarlah....
Semangat
perjuanganmu
Demi mencapai....
Hasrat yang tak tertahankan
Kucoba mengungkapkan dari hati
Yang terdalam, dan akhirnya dirimu....
Kujual....
Bagian
demi bagianmu
Lakulah
daging segar daganganku
Hingga
daging-dagingku....
Meletus,
di medan perang
Tiada
takut,
Tiada
gentar memerangi....
Dirimu yang kusayang
Tiba-tiba kau peluk diriku
Berdebar jantungku, berguncang imanku
Hingga diriku merasa....
Basah....
Tetesan
air hujan air hujan
Dari
atap tokoku yang bocor, membasahi dagingku
Ingin
ku menangis
Membayangkan
nasib dagingku....
Mati.....
Lebih
baik daripada hidup terjajah
Dengan
kebodohan dan kesengsaraan
Kemiskinan
dan banyaknya tekanan
JAHANAM
Bagi
bangsa penjajah,
Ingin ku
hancur leburkan....
Matamu....
Dengan tatapan menggodaku
Menutupi akal sehatku
Menghangatkan tubuhku
Bertambahlah semangatku
Hingga diriku merasa....
Marah,
Mengapa
tetesan hujan
Mendarat
di daging-dagingku ?
Benci
aku, sebel aku, diriku....
Manusia
terkutuk,
Seperti
binatang jalang
Namun
merasa sebagai
Utusan
Ilahi
Padahal,
jiwa dan ragamu....
Kulumat-lumat
Kuraba-raba
Kita berdua pun menikmatinya
Ternyata dirimu....
Busuk
dan berbau
Rugi
besar diriku....
Berjuang
untuk kemerdekaan
Kewajiban
kita bersama
Barisan
terdepan ialah pemuda harapan bangsa
Pemuda
harus....
Terbang tinggi
Dengan sayap-sayap cintaku
Agar saat terjatuh
Kau akan....
Kubersihkan....
Dari
berbagai jamur dan debu
Agar
dirimu....
Tertembak....
Peluru
menembus dadaku
Namun
semangatku tetap berkobar
Karena
tujuanku hanya....
Jadi pengemis,
Mengemis cintamu
Semoga dirimu....
Esok
laku lagi....
Hingga
daku mendapat untung
Dengan
kantung penuh uang
Menjadikan
aku....
Keluar,
Dari
dalam belenggu penjajah
Sehingga
dapat maju ke depan
Tidak
lagi mundur ke belakang
Ataupun
berbelok ke samping
Sehingga
mencapai tujuan kita....
Terjatuh dari kasur,
Diriku tersadar....
Akulah....
Penjual
daging yang....
Merdeka, Merdeka, Merdeka.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar